Drama Korea – Sinopsis Start Up Episode 8 Part 1, Biar mengerti dongeng alur untuk Episode sebelumnya cek di sini. Sedangkan alur dongeng lengkap kdrama ini ada pada goresan pena yang ini.
-Samsan Tech-

Semua bersiap untuk pulang, kecuali Yong San. Dal Mi pun tanya, apa Yong San tak pulang? Yong San bilang ia mesti buat rekam cadang.
Sa Ha : Kau sering menghasilkan rekam cadang.
Do San : Kita mesti sesering mungkin buat rekam cadang.
Chul San : Benar. Saat saya masih melakukan pekerjaan di perusahaan besar, saya nyaris kehilangan 100 juta alasannya yaitu tak menghasilkan rekam cadang.
Dal Mi : Kalian tahu perusahaan Just One Day di lantai dua, ‘kan?
Chul San : Ya. Tentu tahu. Mereka sanggup investasi sebesar empat miliar.

DoDal dan ChulSa beranjak keluar.
Dal Mi : Mereka kehilangan 100 juta won lewat serangan perangkat pemeras peretas.
Chul San : Sungguh? Sulit sekali untuk menjadi berhasil alasannya yaitu ada peretas. Kita mesti buat rekam cadang mudah-mudahan tak kerumitan dikala dicuri.
Sa Ha : Kita tidak mempunyai data berharga. Kenapa mesti repot? Tak ada yang sanggup dicuri. Kenapa buat rekam cadang?
Dal Mi : Kita tetap mesti bersiap. Karena sanggup saja banyak penanam modal tiba-tiba mengunjungi kita.
Do San : Ya. Kita tak tahu masa depan.

Mereka tiba di depan lift. Dal Mi mengancingkan tas Do San yang ternyata masih terbuka.
Chul San yang menyaksikan itu, pribadi menyaksikan ke Sa Ha.
Chul San : Meski kini kamu benci seseorang, Nona Sa Ha, tasku terbuka. Suatu hari, kamu sanggup saja tergila-gila dengannya.
Sa Ha : Bisa saja sebaliknya. Siapa sangka suatu hari nanti temanmu yang paling baik menjadi musuhmu.

Saat Sa Ha menyampaikan itu, adegan berpindah ke Yong San yang sedang menghasilkan rekam cadang.
Do San membenarkan. Manusia tidak sanggup ditebak, sama menyerupai kehidupan. Tak sanggup diprediksi sama sekali. Pemrograman juga begitu. Seperti mati lampu atau diretas, banyak problem sanggup muncul, dan kita tak berdaya dibuatnya. Karena itulah kami senantiasa menghasilkan rekam cadang.

Sekarang, kita kembali ke momentum sehabis DoDal meninggalkan ruangan Pimpinan Won.
Sang Soo di ruangan Pimpinan Won. Dia terkejut menyaksikan puing-puing pecahan papan nama ayahnya.
Sang ayah kemudian memerintahkan Sang Soo menyerahkan rekaman CCTV Do San ke tim hukum. Omo! Mereka bermaksud menuntut Do San!


Malam pun tiba. DoDal duduk di taman. Dal Mi menyaksikan tangan Do San yang terluka.
Dal Mi : Tanganmu terluka parah. Kudengar tangan pemrogram sama pentingnya dengan tangan pianis. Tidak. Aku tak apa-apa.
Dal Mi kemudian mengobati tangan Do San. Do San kesakitan. Dal Mi pun tanya, apa mau ke tempat tinggal sakit. Do San bilang enggak alasannya yaitu lukanya gak parah.
Dal Mi lantas secara perlahan-lahan mengobati Do San.
Do San memandang Dal Mi. Lalu ia tanya, argumentasi Dal Mi menyukainya.
Dal Mi bilang dahulu Do San pernah menanyakannya.
Dal Mi : Tanganmu. Aku suka tanganmu.
Dal Mi menempelkan plester di tangan Do San. Setelah itu, ia mencium tangan Do San.
Tentu saja Do San bahagia tangannya dicium.
Dal Mi berterima kasih alasannya yaitu Do San udah membelanya hari ini. Dia bilang ia takkan melalaikan hari ini.
Ep 8, REKAM CADANG.

Trio San berleha-leha di halaman Sand Box.
Do San tiduran di pangkuan Chul San. Dan Yong San duduk disamping Chul San.

Tiba-tiba, seorang namja tiba membawakan bunga ke pacarnya yang menjadi akseptor Sand Box.
Chul San dan Yong San menyaksikan itu. Chul San bilang, harusnya ceweknya diberi makanan bukan bunga.
Yong San : Pria itu tak peka. Diska keras eksternal atau papan tombol tanpa kabel lebih berguna.
Chul San : Kau benar. Dia bodoh.

Mereka kian ngomel dikala si namja makein jaket ke ceweknya.
Chul San : Astaga. Apa yang ia lakukan? Apa ia pikir suhu badannya 40 derajat?
Yong San : Suhu tubuh mereka sama-sama 36,5 derajat. Kenapa diberi jaket?
Chul San : Dasar tak berguna. Kenapa mereka…
Pasangan kekasih itu kemudian pelukan. Lalu cowoknya menampilkan kecupan ke pipi ceweknya.

Chul San iri, nampaknya berguna. Pasti berguna. Sangat berguna.
Yong San : Astaga, Chul San-ah. Sepertinya negara kita memang sudah maju.
Chul San : Kau benar. Apakah kita sanggup menyerupai mereka juga?

Do San ngeliat tangannya.
Do San : Yong San-ah, kamu benar. Tanganku yang terbaik. Tangan keberuntungan.
Chul San dan Yong San pun galau dengan perilaku Do San.

Do San bangun.
Do San : Hei. Bukankah cuacanya bagus untuk menghasilkan program? Lihat langitnya. Kenapa sungguh indah? Apa itu? Kenapa sungguh biru? Tunggu. Rasakan anginnya. Sempurna. Cuaca hari ini sungguh gila. Sungguh.

Chul San dan Yong San tambah galau dengan kelakuan Do San.
Yong San : Kenapa dia? Apa ia sudah gila?
Chul San : Itu lirik lagu. “Good Day” oleh IU. Dia begitu alasannya yaitu sedang senang.
Do San kemudian menyaksikan seseorang dan berlari pergi.
Yong San : Astaga. Jika saya akan begitu waktu punya pacar, Chul San, saya lebih memutuskan tak punya.

Chul San menoleh ke belakang dan pribadi bersemangat. Dia memakai kacamatanya.
Chul San : Tidak. Aku tetap mau punya. Kau di sini saja.
Chul San pribadi pergi.
Yong San menyusul Chul San.

Dal Mi dan Sa Ha tengah mengatakan dengan seorang yeoja di halaman Sand Box.
Dal Mi kemudian berterima kasih pada yeoja itu alasannya yaitu sudah menampilkan waktunya untuk mereka.
Yeoja itu kemudian pergi dengan tongkat dan anjingnya selaku penuntunnya. Ya, yeoja itu buta!

Chul San dan Do San menghampiri mereka.
Do San tanya, apa yang mereka bicarakan.
Dal Mi : Dia menginformasikan syarat yang dikehendaki dalam penyelesaian kita.
Chul San : Begitukah? Menurutmu, apa saja syaratnya, Nona Jung?
Sa Ha : Terutama, pengenalan gambar. Pengenalan hurufnya juga mesti tinggi, hingga sanggup identifikasi dikala bergerak cepat. Bisa identifikasi goresan pena tangan, duit kertas, dan duit koin. Terkadang tunanetra ditipu dikala diberi duit kembalian.
Yong San datang.
Sa Ha tanya, apa mereka bisa?
Yong San bilang iya.

Do San : Aplikasi tunanetra lain punya metode ini. Kita perlu sesuatu yang berbeda.
Sa Ha : Pengembang aplikasi terdengar memukau dikala mereka bilang bisa.
Yong San : Aku bisa. Semua bisa.
Chul San : Katamu tidak ingin punya pacar?
Yong San : Aku tetap mau kalau bisa.

Dal Mi menyaksikan yeoja tadi sedang bicara dengan akseptor Sand Box lain.
Dal Mi : Bagaimana kalau anjing pemandu tunanetra sanggup bicara?
Chul San : Kami pengembang aplikasi, bukan dewa.
Dal Mi : Benar. Aku tahu itu mustahil. Tapi seandainya saya buta, saya niscaya paling membutuhkan itu. “Ada berapa orang di depanku? Bagaimana ekspresinya? Di mana wilayah penyeberangan?” Jika saya mengajukan pertanyaan itu, kuharap anjing sanggup menjawabnya. Bagaimana anjing sanggup bicara?
Chul San : Tony Stark pun tak sanggup melakukannya.

Do San bilang sanggup dilakukan.
Semua kaget.

Yong San : Apa? Kau lebih andal dari Tony Stark?
Do San : Dal Mi-ya, kamu jenius. Bagaimana sanggup terpikir itu?
Dal Mi : Aku? Aku bukan jenius.
Do San : Tidak. Kau memang jenius.
Do San kemudian mengajak semua pergi. Dia bilang akan menjelaskannya nanti dan memukau Dal Mi pergi.


Sa Ha : Apa cuma saya yang tak mengerti suasana ini?
Chul San : Kenapa ia jenius? Mungkin alasannya yaitu cantik? Tapi itu kau, Nona Jung.
Chul San cengengesan. Sa Ha pun kesal.

Mereka kembali ke kantor.
Do San menampilkan Yeong Sil dan ponselnya.
Do San : Ini pelantang IA, ‘kan? Apa namanya?
Yeong Sil : Halo, namaku Yeong Sil.
Do San : Yeong Sil-ah, di mana wilayah penyeberangan?

Yeong Sil : Aku mau beri tahu kalau itu terlihat.
Do San : Dengar itu? Dia mau beri tahu kalau terlihat.
Chul San : Jadi, ayo perlihatkan kepadanya.
Dal Mi, Chul San dan Yong San pribadi semangat.


Sa Ha masih belum ngerti.
Chul San : Nona Jung, teknologi apa yang kita miliki?
Sa Ha : Pengenalan gambar.
Yong San : Bagaimana kalau teknologi pengenalan gambar dan pemrosesan bunyi disatukan?

Dal Mi : Jika mengajukan pertanyaan pada alat ini, kamera akan melihat, kemudian alat ini akan menjawab pertanyaanmu.
Sa Ha : Jadi, melaksanakan komunikasi dua arah lewat alat ini?
Do San dan Yong San mengangguk.

Dal Mi kemudian tanya gimana caranya masukin Yeong Sil ke ponsel.
Yong San : Kita cuma perlu pakai API Yeong Sil di aplikasi kita. Apa bisa? Sepertinya sulit untuk direalisasikan.
Do San : Jangan khawatir. Kita niscaya sanggup melakukannya.
Dal Mi : Ya, saya juga akan berusaha.


Dal Mi menemui Ji Pyeong. Dia menampilkan proposal usahanya pada Ji Pyeong.
Ji Pyeong menolak.
Dal Mi : Kau belum memeriksanya. Kenapa sudah bilang begitu? Ide kami sangat…

Ji Pyeong : Bagus. Aku tahu itu. Namanya juga bagus. “NoonGil”. Tapi kenapa hal sebagus ini belum ada hingga sekarang?
Dal Mi : Sudah ada yang menyerupai di Amerika.
Ji Pyeong : Aku tahu. Google dan MS menjadikannya bersama. Tapi perusahaan rintisanmu mau menghasilkan itu?
Dal Mi : Ya, kami mau. Kenapa? Kau pikir tak bisa?
Ji Pyeong : Mau kuberi tahu fakta atau masa depan sarat cita-cita dan harapan?
Dal Mi : Masa depan sarat cita-cita dan harapan.
Ji Pyeong : Masa depan menyerupai itu tak akan pernah datang.


Diluar, Bu Yoon mengintip Dal Mi dan Ji Pyeong lagi berdebat.
Dong Cheon datang, Bu Yoon. Sedang apa?
Bu Yoon nyuruh Dong Cheon diam.


Ji Pyeong tanya, apa Dal Mi sudah mengkalkulasikan ongkos API Yeong Sil.
Dal Mi : Tentu saja. Karena di Amerika ada yang mirip, kami cari tahu dari pemakaian di sana. Biaya API Yeong Sil sekitar empat won per 15 detik. Anggap satu orang memakainya lima menit per hari, dan ada 1.000 pengguna aktif harian, ongkos API sekitar 29,2 juta won per tahun. Biayanya sedikit di bawah 30 juta per tahun.
Ji Pyeong : Lantas dari mana duit itu?
Dal Mi : Dari iklan…
Ji Pyeong : Kau tak akan masukan iklan ke layanan untuk tunanetra, ‘kan?
Dal Mi : Berarti cari investor.


Ji Pyeong : Jika 30 juta untuk 1.000 pengguna aktif harian, mempunyai arti 300 juta untuk 10.000. Makin banyak pengguna, ongkosnya kian tinggi. Siapa yang akan investasi?
Dal Mi : Pasti ada. Pasti ada penanam modal yang tergerak hatinya dengan wangsit kami. Apa tak ada?
Ji Pyeong : Tak ada. Investor cuma tergerak pada satu hal. Uang.
Dal Mi : Tidak. Bisa diyakinkan dengan cara lain selain uang.
Ji Pyeong : Tak akan bisa.
Diluar, Bu Yoon senyum-senyum dengerinnya.

Ji Pyeong menghasilkan dua cangkir kopi. Sambil menanti kopinya dipress mesin kopi, ia bilang ke Dal Mi kalau ia sungguh ingin Samsan berhasil lebih dari siapapun.
Ji Pyeong : Aku yang begitu pun tak tergerak. Bagaimana sanggup yakinkan yang lain?
Dal Mi : Bagaimana kalau kamu tergerak? Bagaimana kalau saya berhasil meyakinkanmu? Tak mungkin.
Ji Pyeong narok dua cangkir kopi di meja dan kembali duduk.

Dal Mi mulai gedek. Dia bilang ia bakal tetap coba. Lalu ia berdiri dan masangin alat kejujuran di jari Ji Pyeong.
Dal Mi bilang lampu di alat itu akan menyala kalau ia berhasil meyakinkan Ji Pyeong.
Ji Pyeong : Kubilang tak akan berguna.

Dal Mi : Aku punya suatu ingatan lama. Awalnya sudah salah.
Ji Pyeong : Kau mesti beri tahu fakta dan data, bukan cuma dongeng terhadap investor.
Dal Mi : Kurasa sudah sekitar 15 tahun lalu. Waktu itu, Do San mengirim surat kepadaku.
Ji Pyeong pun pribadi memandang Dal Mi.
Dal Mi : Ada yang saya sadari berkat surat itu. Kupikir ia akan terus bersamaku. Betapa berharganya eksistensi sesuatu yang kita anggap pasti.


Ji Pyeong terpana memandang Dal Mi dan teringat isi suratnya dulu.
Ji Pyeong : Dulu saya tak sadar waktu bersamanya yaitu waktu yang berharga. Semua momen bersamanya yaitu anugerah.
Dal Mi : Betapa berharganya hari demi hari. Aku sadar berkat surat itu.


Halmeoni mulai kesusahan membuka pintu.
Dal Mi terus berupaya yakinkan Ji Pyeong. Dia bilang, ia bukan mau melaksanakan hal yang hebat.
Dal Mi : Hanya saja, hal yang lazim bagi kita bagi sebagiana orang sulit untuk dilakukan. Aku ingin teknologi kita menolong mereka. Meski cuma sedikit. Meski sungguh sedikit, kalau itu sanggup menolong hidup mereka, kurasa itu argumentasi yang lebih dari cukup. Pasti ada orang lain yang berpikiran sama denganku.

Lampu di jari Ji Pyeong menyala.
Dal Mi : Tunggu. Lihat itu! Aku berhasil meyakinkanmu, ‘kan?
Ji Pyeong kaget, tunggu. Kenapa begini? Astaga.


Dal Mi : Kau berdebar mendengarnya, ‘kan?
Ji Pyeong : Tak sanggup begini. Kau curang. Kapan saya berdebar?
Ji Pyeong mencopot alat itu dari jarinya.
Ji Pyeong : Itu produk gagal. Pasti ada kesalahan.


Dal Mi : Mulutmu sanggup berbohong, tetapi hatimu tak bisa. Aku sudah dengar rekomendasi jujurmu.
Ji Pyeong: Tidak. Aku belum dengar itu.


Dal Mi mau pergi, tetapi Ji Pyeong menahannya dengan memegang tangannya.
Ji Pyeong : Tunggu sebentar, Nona Seo.
Dal Mi terkejut Ji Pyeong megang tangannya. Ji Pyeong pribadi menurunkan tangannya.
Ji Pyeong : Pikirkan sekali lagi. Kau akan kesusahan alasannya yaitu ini. Niat baikmu menghasilkan siapa pun kelaparan. Kau sanggup terluka.
Dal Mi : Han Timjang-nim, saya sudah pernah mempertimbangkan ini. Sepertinya saya memang suka hidup dalam kesusahan. Jadi, jangan terlalu khawatir. Terima kasih kopinya.

Ji Pyeong pun stress.
Ji Pyeong : Apa yang mesti kulakukan dengannya?
Bu Yoon masuk, masuk akal kamu berdebar…
Ji Pyeong yang gak tahu itu Bu Yoon, sewot.
Ji Pyeong : Kubilang tidak!


Melihat Bu Yoon yang datang, Ji Pyeong pribadi berdiri.
Ji Pyeong : Bu Yoon.

Bu Yoon : Makin berhasil suatu bisnis, CEO akan kian kesusahan alasannya yaitu cuma sanggup sanggup dana dari investor. Aku tahu alasannya yaitu sewaktu muda pernah menjajal bisnis semacam ini. Aku senantiasa memohon terhadap orang lain setiap hari. Sangat melelahkan.
Ji Pyeong : Tepat sekali. Masalahnya…
Bu Yoon membaca proposal Noongil.
Bu Yoon : Dia punya argumentasi yang jelas.
Ji Pyeong : Ya, tetapi cuma itu. Dia tak tahu mesti apa dan bagaimana.
Bu Yoon : Semuanya sanggup dilaksanakan kalau punya alasan.
Ji Pyeong : Seperti anak kecil di ayunan?
Bu Yoon : Benar.


Ji Pyeong : Bu Yoon, apa kamu tahu? Nona Won In Jae dan Nona Seo Dal Mi yaitu kerabat kandung?
Bu Yoon terkejut. Dia bilang, nama keluarga mereka berbeda.
Ji Pyeong menjelaskan, kalau ortu mereka cerai dikala mereka kecil. In Jae ikut ibunya dan Dal Mi ikut ayahnya.
Bu Yoon : Lantas apa mungkin…
Ji Pyeong : Ya. Anak kecil di ayunan itu sanggup saja Nona Won, tetapi mungkin juga Nona Seo.


Dal Mi berdiri di depan poster Pimpinan Won. Dia mengumpat, kamu cuma sanggup duduk sepanjang hari. Ya, ampun. Maaf, ternyata kamu berdiri. Kau terlalu pendek, jadi, kukira sedang duduk.
In Jae datang.
“Kenapa tak katakan pribadi di depannya?” tanya In Jae.
Dal Mi pun berkata, kalau ia sudah melaksanakan hal yang lebih buruk.
“Kudengar Nam Do San merusak papan nama ayahku. Aku beri keterangan demi kau. Kenapa begitu?”
“Karena saya tidak ingin laksanakan perintahmu.”
“Perintahku?”


“Dulu kamu senantiasa memberiku makanan yang tak yummy bekas kau. Kesemek pahit, apel asam dan makanan yang cuma terlihat enak. Tak ingat?”
“Entahlah.”
“Kau senantiasa membohongiku, tetapi saya senantiasa memakannya. Aneh sekali. Seperti orang bodoh. Kini saya tidak ingin menjadi orang kurang bakir lagi. Karena itu, saya buang.”


Sa Ha mengundang Dal Mi. Dal Mi pun bergegas menghampiri Sa Ha.
In Jae tersenyum memandang Dal Mi.

Nyonya Cha menyaksikan brosur loker di depan pintu masuk minimarket.
Lalu ia menyaksikan pekerja minimarket sedang mengangkut-angkut kardus.
Nyonya Cha : Meskipun butuh uang, saya tak sanggup laksanakan itu. Sarafku akan terjepit kalau angkat barang di umur setua ini.


Pimpinan Won menghubunginya. Langsung saja Nyonya Cha minta credit card nya diaktifkan lagi. Pimpinan Won sepakat tetapi Nyonya Cha dan In Jae mesti pulang ke rumah.
Nyonya Cha terkejut mendengar In Jae kabur dari rumah.
Pimpinan Won : Kau tak tahu? Hei. Hebat sekali ibu dan anak ini.
Nyonya Cha ingin tahu kapan In Jae pergi dari rumah. Pimpinan Won bilang sehabis menghasilkan kekacauan di rapat dewan waktu itu.

Nyonya Cha mutusin panggilan Pimpinan Won. Pimpinan Won sewot.
Nyonya Cha menelepon In Jae.

Mereka makan di restoran.
Nyonya Cha : In Jae-ya, kamu keluar dari rumah? Lalu kamu tinggal di mana? Hotel?
In Jae : Tidak. Aku tinggal di apartemen satu kamar erat Sand Box.
Nyonya Cha : Satu kamar? Kau CEO. Kenapa tinggal di apartemen satu kamar?
In Jae : Banyak yang begitu. Fasilitas dan keamanannya bagus. Yang terpenting, hatiku tenang.
In Jae kemudian makan dengan lahap.


Nyonya Cha : Jangan begitu. Buang harga dirimu dan kembali ke perusahaan ayahmu…
In Jae : Eomma!
Nyonya Cha : Sepertinya ayah mau kamu kembali.
In Jae pun kesal. Dia bilang akan pergi kalau sang ibu terus membicarakan itu.

Nyonya Cha mengalah.
In Jae makan lagi.
Nyonya Cha : Kau merasa nyaman?
In Jae : Ya. Kenapa? Tak terlihat begitu?
Nyonya Cha : Tidak. Kau terlihat begitu.

Ji Pyeong dan Dal Mi duduk di kafetaria. Ji Pyeong menampilkan Dal Mi daftar tim tanggung jawab sosial perusahaan.
Ji Pyeong bilang, Samsan tak sanggup pasang iklan atau terapkan layanan berbayar.
Ji Pyeong : Kau tak tahu cara hasilkan pendapatan, dan cuma bergantung perusahaan besar. Itu daftar perusahaan yang tahun ini punya banyak dana untuk TJSP. Coba lihat ini.


Ji Pyeong memindah kursinya mudah-mudahan lebih erat ke Dal Mi.
Ji Pyeong menjelaskan, warna biru terpikat pada kemakmuran tunanetra. Warna merah mempunyai kendala alasannya yaitu pajak, gosip, atau semacamnya, jadi, mereka butuh memperbaiki citra. Jika hal itu dibahas, pengajuanmu akan disetujui.

Dal Mi memandang Ji Pyeong.
Dal Mi : Kamsahamnida, Timjangnim.
Ji Pyeong sempet melamun ditatap Dal Mi dari jarak dekat.
Lalu Ji Pyeong tanya, terima kasih untuk apa.
Dal Mi : Biasanya kamu senantiasa menginjak rem, tetapi kali ini kamu menginjak gas dengan kuat. Melaju kencang juga butuh rem. Kau tak akan berani melaju tanpa rem.
Ji Pyeong : Aku tahu itu.
Dal Mi : Ke depannya, tolong injak rem juga.
Ji Pyeong : Baiklah.


Ji Pyeong mau pergi, tetapi ditahan Dal Mi. Dal Mi tanya, kapan ultah Ji Pyeong.
Ji Pyeong : Kenapa mengajukan pertanyaan begitu?
Dal Mi : Aku suka berlebihan, jadi, mau berikan kamu kado. Kapan ulang tahunmu?
Ji Pyeong : Tanggal tujuh Mei.
Dal Mi : Ternyata sudah lewat.


Tapi Dal Mi kemudian menyadari sesuatu.
Dal Mi : Apa? Tanggal tujuh Mei?
Ji Pyeong : Ya, sama dengan Do San. Ulang tahunku.

Ji Pyeong kemudian beranjak pergi.
Dari lantai atas, Do San menyaksikan mereka dan terlihat cemburu.
Bersambung ke part 2…