Drama Korea – Sinopsis Start Up Episode 16 Part 4, Jika ingin mendapatkan spoiler-spoiler lengkapnya ada pada goresan pena yang ini gaes! Namun goresan pena yang lain menyerupai Eps sebelumnya ada di sini.

Chul San duduk di kafetaria. Dia memandang memo Sa Ha dengan sedih.
Chul San : Benar. Karena ini ia tidak ingin umumkan korelasi kami. Jika menjadi dia, saya juga tidak ingin alasannya yakni malu.
Sa Ha dan kakaknya berlangsung ke arah Chul San.

Sa Ha : Kau disini? Kenalkan. Dia kakakku.
Chul San yang mentalnya kena gegara omongan Sa Ha tadi, mengenalkan dirinya selaku rekan kerja Sa Ha. Chul San bahkan memberi penegasan kalau ia cuma rekan kerja.
Tapi Sa Ha ngenalin Chul San selaku pacar.
Bu Jung bilang, Sa Ha sering dongeng soal Chul San.
Chul San senang. Dia bahkan mengucapkan terima kasih dan mengaku merasa terhormat.


Sekarang, Dal Mi cs lagi nungguin pengumuman lolos tender. Dal Mi terus-terusan menekan tombol refresh.
Yong San menegur Dal Mi. Dia bilang, tombolnya bisa rusak kalau ditekan menyerupai itu terus menerus.

Tak usang kemudian, Dal Mi teriak.
Do San juga terkejut menyaksikan layar laptop.
Mereka lolos saringan kedua!
Sontak lah mereka pribadi bersorak senang.

Mereka pribadi merayakan kesuksesan mereka lolos tender.
Do San nemenin Dal Mi menegaskan kue.
Dal Mi menegaskan 3 makanan ringan manis dan memerintahkan Do San makan yang banyak makanan ringan manis pilihannya.
Dal Mi : Katanya makanan ringan manis ini paling enak.

Mereka lantas bergabung dengan yang lain.
Do San : Silahkan makan sepuasnya. Hari ini saya yang traktir.

Chul San mau ngambil makanan ringan manis namun tangannya pribadi ditampol Do San alasannya yakni itu makanan ringan manis dibelikan Dal Mi khusus untuknya.
Dal Mi memerintahkan Chul San makan makanan ringan manis yang lain saja.

Sa Ha yang menyaksikan itu gak terima.
Dia makein topi kerucut ke Do San, namun menjepretkan karetnya ke dagu Do San.


Sa Ha kemudian tersenyum memandang Chul San.
Chul San membalas Sa Ha dengan ngasih finger heart.

Tae Won : Jangan-jangan kita berhasil.
Han : Jangan berharap. Masuk ke lima besar saja sudah hebat.
Do San : Tak mau. Sudah telanjur masuk lima besar. Jadi, mesti menang.
Kang Jin : Jika menang tender, kamu janji akan berikan saya semiliar won.
Chul San : Kang Jin, siapkan kendaraan beroda empat sport dan kamu siapkan semiliar.
Yong San : Pak Lee, kalau menang, kamu mesti membotaki rambutmu.
Chul San : Aku tahu. Aku sudah siapkan alat cukur.


Chul San memandang Sa Ha.
Chul San : Dan Nona Jung, jangan ingkari janjimu.
Sa Ha : Jangan khawatir. Aku tak pernah ingkar janji.

Yong San : Kau juga Do San.
Do San : Jangan khawatir. Akan kulakukan.


Dal Mi kemudian bilang di titik mereka sekarang, ia ingin menanyakan usulan semua.
Dal Mi : Hampir semua perusahaan kemudi otomatis di Korea ikut tender kali ini. Lalu, kita masuk ke lima besar. Artinya, teknologi kita bisa berkompetisi dan diakui. Bagaimana kalau kita melakukan kenaikan skala usaha?
Sa Ha : “Peningkatan skala usaha”? Kau mau membesarkan perusahaan?
Dal Mi : Ya. Aku mau mempercepat semuanya. Menambah pegawai, dan berinvestasi di litbang. Bagaimana usulan kalian?
Semua setuju. Tapi tidak dengan In Jae.


In Jae : Kau mau buka putaran pendanaan?
Dal Mi : Ya. Kali ini kami masuk dalam lima besar terbaik di tender. Berarti kesanggupan berkompetisi kami sudah diakui di dunia kemudi otomatis.
In Jae : Jadi, kamu mau cari investor, dan laksanakan kenaikan skala usaha?
Dal Mi : Benar.
In Jae : Aku tak setuju. Kita belum ada pendapatan. Nilai kita tak diakui meski sanggup investasi. Saham kita akan rugi.
Dal Mi : Aku begini agar ada pendapatan.
In Jae : Tunggu hingga lebih baik.
Dal Mi : Tidak, itu akan terlambat. Kecepatan lebih penting ketimbang saham sekarang. Kita belum pernah sanggup investasi luar.
In Jae : Ya. Agar kamu tak terpengaruh apa pun dalam suasana menyerupai ini.
Dal Mi : Eonni!
In Jae : Sudahlah. Pembicaraan ini selesai.
Dal Mi pun pergi dengan kesal.


Ji Pyeong yang habis berjumpa seseorang di lobby, berlari ke lift.
Dia menyaksikan pintu lift akan menutup.
Ji Pyeong : Tunggu!
Seseorang menahan pintu lift tetap terbuka dari dalam. Orang itu Dal Mi.
Suasana pribadi canggung.

Ji Pyeong dan Dal Mi bicara di atap. Dal Mi tanya, Ji Pyeong tak menghindarinya lagi.
Ji Pyeong bilang ternyata ia sembuh lebih cepat.
Ji Pyeong : Katakan apa yang akan kamu bicarakan.
Dal Mi : Baik.
Ji Pyeong : Cepat. Aku sudah siap. Tapi jangan bilang terima kasih dan maaf alasannya yakni saya sudah tahu.
Dal Mi : Tapi, saya mesti menyampaikan itu.


Ji Pyeong : Aku sudah sering dengar perkataan terima kasih darimu. Sudah lebih dari cukup. Selain itu, dulu, saya tak mempunyai teman. Jadi, suratmu satu-satunya penghiburku. Jadi, mari sama-sama berterima kasih. Cukup, ‘kan?
Dal Mi : Ya.


Ji Pyeong : Meskipun saya sudah membaca suratmu, saya tak mencarimu selama 15 tahun. Namun, Pak Nam pribadi mencarimu pada hari pertama membaca suratmu. Jadi, Nam Do San di surat itu bukan aku. Kau tak perlu minta maaf dan merasa bersalah.
Dal Mi : Kau sungguh tak membiarkanku bicara.
Ji Pyeong : Sudah cukup, ‘kan?
Dal Mi : Ya.

Ji Pyeong kemudian beranjak pergi.
Dal Mi tersenyum alasannya yakni Ji Pyeong sudah baik-baik saja.

Chul San dan Yong San bangun di depan banner Pimpinan Won.
Mereka kemudian sengaja banget membicarakan boroknya Pimpinan Won dengan keras agar di dengar orang-orang di sekeliling mereka.
Chul San : Apa kamu sudah dengar? Putra Won Du Jeong memerintahkan pengembang Cheongmyeong Company meretas perusahaan.
Yong San : Tentu sudah dengar. Aku tak tahu kenapa perusahaan sebesar itu menghasut mereka.

Chul San : Mereka mau merusak perusahaan yang punya potensi. Pasti itu. Kudengar putranya sedang diinvestigasi alasannya yakni itu.
Yong San : Astaga, sungguh?
Chul San : Aku tak percaya ada gunanya mendengar kuliah dari dia.
Yong San : Tapi apa benar? Kuliahnya masih jalan?

In Jae melalui dan menyimak percakapan mereka.
In Jae kemudian beranjak, menjinjing suatu amplop besar.

Sementara itu, cuma sedikit yang menghadiri kuliah relai Pimpinan Won.
Pimpinan Won di panggung berkata, kalau ia bertujuan mengadakan tanya jawab namun kelihatannya tak ada yang punya pertanyaan.
Pimpinan Won : Kita semua sama-sama sibuk. Jadi, mari jangan buang waktu. Kita sudahi saja hingga di sini.


In Jae menunjuk tangan dan bilang ia ada pertanyaan.
Yong San dan Chul San duduk di belakang In Jae.
Seseorang menampilkan mic ke In Jae.
In Jae : Kau bilang pegawai mempunyai kesempatan yakni kunci. Dulu, saya salah satu pegawaimu yang berpotensi. Kenapa kamu mengusirku begitu saja?
Pimpinan Won : Apa layak kamu menanyakan hal pribadi di sini?

Chul San : Pendengarnya juga tak banyak. Jawab saja. Semua setuju, ‘kan?
*Kompor bener si Chul San ini, namun saya suka.
Pimpinan Won : Kupikir kamu akan kembali dan menjadi penurut.
In Jae : Ya. Aku memang pemberontak dulu. Tapi kini putramu yang penurut malah sedang sungguh sibuk. Dia diinvestigasi polisi dan kalah tender…
Pimpinan Won sewot, In Jae, kau…

In Jae : Omong-omong, namaku bukan Won In Jae lagi, namun Seo In Jae. Aku sudah terima peniadaan adopsinya hari ini.
In Jae menampilkan amplop yang dipegangnya yang berisi surat peniadaan adopsi.
In Jae : Terima kasih alasannya yakni senantiasa berikan pelajaran yang baik.
In Jae beranjak pergi.


Yong San yang gres ingat siapa In Jae, bergegas memburu In Jae.
Yong San : Seo Dapyeonim!
In Jae berhenti melangkah dan berbalik memandang Yong San.
Yong San bilang mau minta maaf.
In Jae bingung, padaku?
Yong San : Ya. Tiga tahun kemudian di kuliah relai, saya pernah mengajukan pertanyaan kepadamu…

Kita diperlihatkan flashback di saat kuliah relai In Jae. Saat itu, In Jae didampingi Ji Pyeong dan Bu Yoon.
Yong San bertanya, banyak komentar bilang kamu berhasil alasannya yakni anak konglomerat dan itu tak dijumlah alasannya yakni kamu tak mulai dari Sand Box. Bagaimana pendapatmu?
Flashback end…

Yong San : Apa kamu ingat?
In Jae : Tentu saya ingat. Jadi, itu kau, Pak Kim?
Yong San : Ya.
In Jae : Astaga. Jadi, selama ini saya melakukan pekerjaan sama dengan pengumpatku? Aku baik sekali.
Yong San : Aku tak tahu apa-apa, namun malah bicara buruk tentangmu. Maafkan aku.

In Jae : Sesungguhnya, saya bisa hingga di sini alasannya yakni perkataanmu.
Yong San : Karena perkataanku?
In Jae : Itu memang menyebalkan, namun membuatku termotivasi. Aku tak bisa bilang terima kasih, namun kuterima maafmu. Cukup, ‘kan?
Yong San tersenyum, ya.
Lalu In Jae pergi.

Yong San dihubungi Do San.
Yong San : Ya, Do San. Kenapa? Sungguh?

Trio San ke rooftop. Di sana, mereka berjumpa tiga cukup umur yang gres pindahan.
3 cukup umur itu tanya, siapa kalian?
Do San : Kami tim yang dahulu melakukan pekerjaan di sini.
Yong San : Kami pendiri Samsan Tech. Kini, kami kerja di Cheongmyeong Company.
Sontak lah, 3 cukup umur itu pribadi memberi hormat pada Trio San. Mereka tahu siapa Samsan.719
Do San : Kalian pindah kesini?
Salah seorang dari mereka menjawab, kalau mereka gres mau mulai berbisnis.

Mereka juga menanyakan keadaan di rooftop itu.
Do San : Bagus. Sewanya murah, dan pemandangannya juga lebih elok dari Sungai Han.
Yong San : Kadang, di saat kamu lapar dan buka jendela, bau daging sapi akan tercium.
Chul San : Kalian akan mati kalau tak ada pendingin ruangan di saat ekspresi dominan panas, jadi, belilah itu dulu.
Mereka bilang, mereka akan sanggup penanam modal sebelum itu.

Do San kemudian minta izin melihat-lihat untuk yang terakhir kalinya.
Mereka mengizinkan.
Chul San kemudian menampilkan kartu namanya pada ketiga anak itu dan memerintahkan mereka menghubunginya kalau merasa kesulitan.

Trio San masuk. Mereka sedih alasannya yakni takkan bisa main ke rooftop lagi alasannya yakni rooftop mereka sudah punya penghuni baru. Chul San bahkan hingga menangis.
Ketika ditanya Yong San, Chul San bilang ia nangis alasannya yakni kasihan pada ketiga cukup umur itu yang mesti berjuang di rooftop menyerupai itu.
Yong San : Kau benar, jalan mereka masih panjang.

Do San juga nangis, namun alasannya yakni ia teringat kata-kata Ji Pyeong di saat mereka masih menjadi akseptor Sand Box.
Ji Pyeong : Kau tak tahu argumentasi kamu masih begini? Jika saya Yong San atau Chul San, saya akan minta ganti dua tahunku melakukan pekerjaan bersamamu.
Do San pun minta maaf pada Chul San dan Yong San untuk segalanya.
Do San : Jika saja sejak permulaan kalian berjumpa dengan CEO yang baik, kalian bisa lebih singkat keluar dari sini. Karena kebodohanku beberapa tahun, saya menghasilkan kalian panik dan tersiksa. Aku memang bersalah.
Chul San : Kenapa kamu bicara begitu? Jika tujuanku uang, kamu sudah kutinggalkan dari awal.
Yong San : Kau pikir kami mengincar lebih banyak uang, maka melakukan pekerjaan denganmu?
Do San : Lantas, apa argumentasi kalian?

Chul San : Do San-ah, kamu pikir kenapa saya tadi menangis?
Do San : Kasihan terhadap mereka.
Chul San : Dasar bangsat tak peka. Aku merindukan waktu itu. Saat-saat kita menghabiskan waktu di wilayah ini sungguh menggembirakan dan membuatku rindu.
Yong San : Kami sungguh senang hingga senantiasa bergairah di saat masuk kantor dulu.
Yong San pun gemes alasannya yakni mesti memberi klarifikasi dahulu agar Do San paham.
Do San : Aku gres bisa paham kalau diberi tahu.

Mereka kemudian berpelukan dan tangis mereka makin deres.
Chul San : Dulu kami tak tersiksa.
Do San : Terima kasih.
Chul San : Berlakulah baik terhadap kami. Aku juga akan begitu.


Puas menangis, mereka keluar dan 3 cukup umur itu terkejut menyaksikan mata mereka sembap.
Trio San mengucapkan kalimat sokongan terhadap mereka.

Chul San kemudian menyaksikan papan nama Samsan Tech mereka tak ada.
Salah satu dari cukup umur itu bilang tadi ada yang tiba mengambil.
Do San tanya siapa.
Foto tvN
Ternyata yang mengambil papan Samsan yakni Pak Nam. Pak Nam menggantung papan Samsan di dinding rumahnya.
Ibu tanya, kenapa digantung di situ? Turunkan.
Ayah : Ini terang dan bagus.
Ibu : Padahal dahulu kamu senantiasa mengumpat dan bicara buruk terhadap mereka.
Ayah : Karena itu saya menggantungnya. Jika Do San berlaku mengenaskan lagi, saya akan suruh ia menyaksikan ini tiga kali dan bertahan.
Ibu : Jika itu tujuanmu, saya juga setuju.
Foto tvN Foto tvN
In Jae mengendarai mobilnya dengan tampang sumringah.
Disampingnya, tergeletak amplop berisi surat pencabutan adopsinya.
Foto tvN
Hari sudah malam. Seorang kurir datang. Halmeoni yang mendapatkan paket, kesusahan menampilkan tanda tangan.
Kurir tanya, apa Dal Mi gak ada.
Halmeoni bilang Dal Mi belum pulang.
Kurir menolong halmeoni menampilkan tanda tangan.
Tapi kemudian In Jae tiba dan mengaku selaku kakaknya Dal Mi dan menampilkan tanda tangan.
Halmeoni kaget.
Foto tvN Foto tvN
Halmeoni : Kau sungguh-sungguh In Jae?
In Jae : Ini aku, halmeoni. Aku sungguh terlambat, kan?
Halmeoni mendekat dan memeluk In Jae.
Tangis In Jae pecah di pelukan halmeoni.
Foto tvN
Hari kian larut. Di dalam, In Jae duduk bareng Dal Mi, ibu dan neneknya.
Dal Mi menyaksikan maskara In Jae luntur.
Dal Mi : Kau menangis?
In Jae : Tidak.
Nyonya Cha : Kau menyerupai panda sekarang. Maskaramu luntur ke mana-mana.
In Jae : Ini memang mudah luntur. Tak tahan air.
Dal Mi : Alasanmu payah.
Halmeoni melerai mereka. Sudahlah. Kita sudah usang tak bertemu. Jangan bertengkar.
Nyonya Cha : Selama ini kami suruh datang, namun kamu tak pernah datang. Ada apa?
In Jae bilang mau nunjukin sesuatu.
In Jae menampilkan surat peniadaan adopsinya. Sontak, Dal Mi dan Nyonya Cha terkejut membacanya.
Foto tvN
Halmeoni yang penasaran, memerintahkan Yeong Sil menyalakan NoonGil.
Halmeoni : Yeong Sil-ah, bacakan.
Yeong Sil membacanya.
Halmeoni terkejut mendengarnya.
Foto tvN Foto tvN
In Jae : Namaku bukan Won In Jae lagi, namun Seo In Jae. Tadinya saya mau menemuimu lebih cepat. Tapi marga Won membuatku merasa bersalah.
Dal Mi : Harusnya kamu tiba saja. Siapa peduli itu? Harusnya tiba di saat Nenek masih bisa melihat.
Halmeoni : Aku bisa melihat. Aku bisa menyaksikan kalian dengan jelas.
Foto tvN
Halmeoni memejamkan matanya, tak usang kemudian ia mendengar bunyi putranya dan membuka matanya.
Halmeoni menyaksikan Pak Seo pulang ke tempat tinggal menjinjing banyak ayam goreng untuk mereka semua.
Foto tvN
Nyonya Cha, Dal Mi, In Jae dan Pak Seo terlihat bahagia.
Mereka kemudian mengundang halmeoni.
Foto tvN
In Jae melihat-lihat kamar Dal Mi.
Tak usang kemudian, pandangannya tertuju pada dua kotak musik di atas meja.
In Jae mengambil salah satunya dan membukanya.
Foto tvN Foto tvN
Dal Mi tiba-tiba masuk dan sebal menyaksikan kakaknya mengambil barangnya tanpa izin.
In Jae : Kau memperbaiki ini?
Dal Mi : Tidak. Itu bisa sendiri.
In Jae : Aku ambil alasannya yakni ini milikku.
Dal Mi : Terserah kamu saja.
Foto tvN Foto tvN
In Jae nyimpen kotak musiknya ke dalam tas.
Setelah itu ia ngambil duit dan ngasih uangnya ke Dal Mi.
In Jae : Kau tak ingat taruhan kita?
Flashback…
Foto tvN
Saat itu di pesta korelasi In Jae, Dal Mi bilang di depan abang dan ibunya.
Dal Mi : Sejujurnya saya belum sehebat In Jae, saya mengakuinya. Tapi In Jae tiga tahun lebih bau tanah dariku. Tunggu tiga tahun lagi. Aku niscaya akan lebih andal ketimbang dia. Ayo bertaruh 10.000 won.
Flashback end…
Foto tvN
Dal Mi : Tapi apa maksudmu? Menurutmu saya sudah lebih baik ketimbang kau?
In Jae : Belum. Tapi mungkin kalau kenaikan skala bisnisnya sukses.
Dal Mi : Apa? Tapi kamu melarangku.
In Jae : Coba saja.
Dal Mi ngambil uangnya dan tanya kenapa tiba-tiba berubah pikiran?
In Jae : Aku tidak ingin kamu menjadi penurut.
Dal Mi : Apa maksudmu? Apa kamu suka saya alasannya yakni saya pemarah dan pemberontak?
In Jae : Semacam itu.
Foto tvN
In Jae menemui Bu Yoon.
Bu Yoon mempelajari anjuran In Jae.
Bu Yoon : Cheongmyeong Company mencari investor?
In Jae : Ya. Nona Seo mau memajukan skala bisnis. Sepertinya ia banyak belajar di saat merencanakan tender. Jadi, kupikir ia sudah siap. Tolong kenalkan kalau ada penanam modal yang kesengsem di bidang kemudi otomatis.
Bu Yoon : Sepertinya akan sulit.
In Jae : Kenapa? Terlalu cepat?
Bu Yoon : Bukan begitu. Aku tidak ingin menampilkan perusahaan baik terhadap penanam modal lain. Aku senantiasa memperhatikan mereka sejak masa Samsan Tech. Sepertinya, perusahaannya sudah berkembang menjadi perusahaan yang layak kami beri investasi.
Bu Yoon juga bilang, kalau In Jae dan Dal Mi lah permulaan dari Sand Box jadi ia mau mendukung mereka.
In Jae : Terima kasih. Aku mesti kirim berkasnya terhadap siapa?
Foto tvN
Bu Yoon pun menemui Ji Pyeong. Ji Pyeong menolak.
Bu Yoon : Kenapa? Tak ada yang lebih paham Cheongmyeong Company ketimbang kau.
Ji Pyeong : Ada Dong Cheon. Pak Park juga sungguh paham.
Foto tvN
Ji Pyeong manggil Dong Cheon.
Dong Cheon akal-akalan gak denger.
Ji Pyeong sewot, Dong Cheon!
Dong Cheon menoleh, ya?
Foto tvN Foto tvN
Dong Cheon kemudian menghampiri mereka.
Ji Pyeong : Kau akal-akalan tak dengar, ‘kan?
Dong Cheon : Tidak. Aku tak dengar alasannya yakni terlalu konsentrasi membaca.
Foto tvN
Ji Pyeong : Bagaimana? Pak Park juga sungguh kesengsem sejak masa Samsan Tech…
Dong Cheon : Aku tak tertarik. Meskipun tertarik, tak ada apa-apanya dibanding kau. Aku bukan tandinganmu.
Bu Yoon : Aku juga berpikiran sama. Aku merasa Cheongmyeong Company bisa jauh lebih berhasil dari yang mereka pikirkan. Mereka akan secepatnya menghasilkan kurva J. Kita sadar kesanggupan mereka. Investor lain juga niscaya sama. Kau tahu ini kontrak penting, ‘kan? Dapatkan bisnis ini.
Bu Yoon pergi.
Foto tvN
Ji Pyeong kemudian sewot ngeliat Dong Cheon ngetawain dia.
Di taman, Ji Pyeong mikirin tawaran Bu Yoon.
Ji Pyeong : Aku tak bisa memohon agar mereka menerimaku. Kenapa mesti aku?
Do San kemudian datang.
Do San : Kau mau bicara apa? Kenapa memanggilku?
Ji Pyeong : Aku punya permintaan.
Do San : Permintaan? Kepadaku?
Ji Pyeong : Bu Yoon mau…
Do San : Apa?
Ji Pyeong : Bu Yoon mau berinvestasi di Cheongmyeong Company. Apa kalian tertarik?
Do San : Kenapa cuma panggil saya untuk bicarakan itu? Ayo bicara dengan Nona Seo…
Ji Pyeong : Aku tak mau, namun disuruh. Aku tidak ingin terlibat. Itu alasannya. Kau tak pernah mau mendapatkan investasi dariku, ‘kan?
Do San : Kau benar. Aku tak mau.
Ji Pyeong kemudian berdiri.
Ji Pyeong : Baiklah. Aku sudah menawarimu, namun saya ditolak mentah-mentah lagi. Sudah, ‘kan?
Foto tvN Foto tvN
Ji Pyeong mau pergi namun Do San menahannya.
Do San : Aku mau dengar usulan investasimu secara jujur. Ke sampingkan emosimu. Aku ingin analisa rasionalmu.
Ji Pyeong : Kau ingat rekorku yang kedua, ‘kan?
Do San : Tentu saja. Kau sudah tinjau banyak perusahaan. Perusahaan rintisan yang tak mendapat investasimu, tak ada yang sukses. Kau bicara begitu.
Ji Pyeong : Jika saya tak investasi di perusahaanmu, kelihatannya rekor itu akan hancur. Sebagai seorang investor, saya sungguh ingin berinvestasi.
Do San : Ayo pergi bersama. Ayo bicarakan duduk kasus investasi ini dengan Nona Seo.
Ji Pyeong : Pak Nam. Kau mau mendapatkan investasiku? Jika diterima, saya akan terus mengomeli Cheongmyeong Company agar melakukan banyak hal. Kau belum muak dengan omelanku?
Do San : Tentu muak.
Ji Pyeong : Lalu, kenapa diterima? Kenapa kini kamu malah mau menerimanya?
Do San : Karena penawaran kali ini terdengar menyerupai investasi sungguhan, bukan sedekah menyerupai dulu.
Foto tvN
Do San ngajak Ji Pyeong jabat tangan.
Ji Pyeong malu-malu, cuma megang telunjuk Do San.
Do San pribadi menjabat tangan Ji Pyeong.
Do San : Terima kasih.
Ji Pyeong : Aku juga.
Mereka kemudian tertawa.
Do San : Kita sungguh kikuk. Ayo ke dalam.
Foto tvN Foto tvN
DoDal lagi di gereja. Dal Mi berdoa dengan khusyuk.
Melihat Dal Mi berdoa, Do San berbisik kalau ia atheis.
Dal Mi : Aku juga tak terlalu beriman.
Do San : Lantas, kenapa?
Dal Mi : Besok kita akan penyajian simpulan untuk dapatkan tender. Aku berdoa agar bisa menang. Berdasarkan pengalamanku, ini sungguh berhasil.
Do San tertawa mendengarnya.
Foto tvN
DoDal keluar dari gereja.
Dal Mi : Kau sudah berdoa?
Do San : Apa? Sudah.
Dal Mi : Aku sudah berdoa, namun masih berdebar. Aku sungguh tegang.
Foto tvN
Dal Mi kemudian menyaksikan pelangi dan nyuruh Do San berdoa lagi.
Do San : Lagi?
Dal Mi : Berdoa di gereja elok dan ke pelangi juga. Doa kita niscaya dikabulkan. Cepat berdoa.
Do San : Tapi pelangi tak akan kabulkan doamu. Itu cuma pemantulan dan pembiasan cahaya.
Dal Mi : Kau tak percaya? Dan tidak ingin berdoa?
Do San : Maksudku, tak ada bukti bahwa pelangi bisa kabulkan doamu.
Dal Mi : Bukti katamu? Bukti? Baiklah, akan kutunjukkan padamu.
Dal Mi nyosor Do San. Dia mencium Do San dengan ganas.
Dal Mi : Lihat, ‘kan? Aku berdoa agar bisa berciuman denganmu. Lihat. Itu terkabul.
Do San : Itu berbeda. Kau yang menciumku, bukan pelangi yang mengabulkannya.
Dal Mi : Sama saja. Apa yang beda? Jadi, berdoalah dulu. Lalu kamu bisa mewujudkannya.
Do San : Baiklah.
Foto tvN
Do San berdoa. Dal Mi kepo Do San berdoa apa.
Do San : Yang lebih mungkin terjadi. Aku mau perusahaan kita menjadi unikorn.
Dal Mi : Hei. Itu lebih sulit. Sepertinya akan makan waktu lama.
Do San : Tapi kamu tak bilang tak mungkin.
Dal Mi : Tak ada yang tak mungkin. Apa pun bisa kita lakukan.
DoDal kemudian beranjak pergi.
Foto tvN
Dal Mi mulai penyajian di hadapan para investor.
Dal Mi : Aku CEO Cheongmyeong Company. Namaku Seo Dal Mi.
Foto tvN Foto tvN
Hari berikutnya,
Dal Mi menulis sesuatu di memo dan menggantungnya di papan memo.
Dal Mi menulis, untuk merubah dunia.
Tak lama, Do San juga tiba dan menulis sesuatu. Do San menulis, follow your dreams.
Foto tvN
SELESAI….
Foto tvN
EPILOG :
2020, MASA KINI
Cheongmyeong Company kini kian besar!
Meja DoDal bersebelahan. Di meja mereka, ada foto-foto. Salah satu diantara foto-foto itu yakni foto janji nikah DoDal.
Foto tvN Foto tvN
Bu Jung yang dahulu menjadi manajer Dal Mi, kini menjadi karyawan Dal Mi.
Bu Jung : Pak Lee, di mana Dal Mi… Maksudku, di mana Bu Seo dan Pak Nam?
Pak Lee : Mereka sedang rapat berkala pemegang saham.
Foto tvN
DoDal keluar dari lift sambil bergandengan tangan.
Mereka terus berlangsung keluar.
In Jae dan Ji Pyeong muncul.
In Jae bangun disamping Dal Mi.
Ji Pyeong disamping Do San.
Subtitle by Anang Kaswandi, Deaz Putri











































