Drama Korea – Sinopsis Start Up Episode 12 Part 4, Lihat nih gaes wacana Eps sebelumnya ada di sini! Selain itu Kamu semua dapat juga menyaksikan spoiler terhadap recap link lengkap pada goresan pena yang ini.

Do San yang gres pulang, cuma bisa melongo dan menangis di kamarnya.
Lalu ia menyaksikan ke arah fotonya bareng Park Chan Ho dan teringat hari itu, hari di saat ia mendapatkan bola bisbol bertuliskan ‘Follow Your Dream’ dari Park Chan Ho.
Flashback….

Park Chan Ho mengadakan jumpa fans. Banyak fans nya yang hadir, mengantri untuk berjumpa dengannya.
Salah satunya yakni Do San, yang dikirim oleh ayah dan ibunya.
Park Chan Ho bertanya, Do San kelas berapa.

Ayah bilang harusnya Do San sudah SMP, namun alasannya yakni ia ikut akselerasi jadi ia sudah kuliah sekarang.
Ibu menyertakan kalau Do San mengungguli medali emas di olimpiade matematika.
Park Chan Ho takjub.
“Astaga, ternyata kamu jenius.”
“Ya. Jenius matematika, dan Jenius bisbol.” jawab ayah.

Park Chan Ho kemudian bertanya, apa mimpi Do San.
Do San mau jawab, namun secara tiba-tiba ayah membisikkan sesuatu. Lalu Do San bilang kalau mimpinya yakni memperoleh medali Fields dan Penghargaan Nobel. Sesuai yang dibisikin ayahnya, namun kemudian ia tanya apa itu medali fields.
Park Chan Ho yang memahami pun menuliskan sesuatu di bola bisbol nya.
Ayah dan ibu minta foto bersama.
Park Chan Ho bilang Do San saja.

Do San mendekat dan Park Chan Ho memamerkan bola bisbolnya yang sudah ia tulisi ‘Follow Your Dream’.
Park Chan Ho kemudian bilang ke Do San, ikuti mimpimu. Mimpimu.
Dan setelah itu, ayah dan ibu mengambil foto Do San bareng Park Chan Ho.
Flashback end….


Dal Mi di kamarnya, tengah memandang bola bisbol Do San itu sambil menyimak kata-kata Do San yang ternyata tak sengaja terekam di ponselnya. Saat itu, mereka sedang bicara di telepon namun di saat Do San tengah bicara, Dal Mi ketiduran.
Do San yang tahu Dal Mi ketiduran, terus mengatakan dan kata-kata Do San rupanya terekam ponsel Dal Mi.
Do San : Ingat bola bertanda tangan Park Chan Ho yang kuberikan? Dal Mi-ya, kamu sudah tidur? Mimpi yang tertulis disitu sungguh samar. Jadi, saya resah selama ini. Tapi seluruhnya menjadi terang sekarang. Kali pertama saya melihatmu, mimpiku menjadi jelas. Ini semua berkat kau.

Besok paginya, Do San yang habis mandi, mendekati mejanya. Lalu ia menyaksikan buku bimbingan somasi perusahaan rintisan. Do San membukanya dan menandai halaman yang judulnya ‘Pelajari Investormu’.

Dal Mi sudah cantik. Dia duduk memandang parasnya di cermin namun parasnya terlihat muram.
Sepertinya, hari itu yakni hari ultah Do San. Karena Dal Mi berdandan cantik. Berarti, sepekan sudah berlalu sejak Samsan dibubarkan Alex.
Dal Mi kemudian mengambil tasnya dan memasukkan bola Do San ke tasnya.


Do San keluar dari rumahnya dan terkejut menyaksikan Dal Mi sudah berdiri di depan rumahnya.
Do San : Dal Mi-ya, kenapa kamu disini.
Dal Mi : Ada apa dengan wajahmu.
Do San bilang ia jatuh.
Dal Mi : Kau juga?
Do San : Apa maksudmu?
Dal Mi : Ternyata kalian berkelahi.

Do San : Tapi kenapa kamu ke sini?
Dal Mi : Ini hari ulang tahunmu. Kau lupa?
Do San : Begitu. Aku lupa.
Dal Mi : Wajar saja. Kita banyak dilema belakangan ini.
Do San kemudian minta Dal Mi tak khawatir. Dia bilang ia sudah mencar ilmu semalaman. Di buku somasi perusahaan rintisan, ada kasus yang menyerupai mereka.

Di bus, Do San nunjukkin apa yang ia baca di buku gugatan. Do San bilang, kasus Rona Tech menyerupai dengan kasus mereka.
Do San : Tepat setelah diakuisisi….
Dal Mi yang gak mau mendengarnya, mengalihkan obrolan Do San. Dia bilang cuacanya bagus sekali.
Tapi setelah itu, Do San melanjutkan kalimatnya.
Do San : Tepat setelah diakuisisi, pengacara perusahaan didaftarkan menjadi administrator dan eksekutif diberhentikan. Ini memang kasus di Amerika…

Kalimat Do San terhenti lagi alasannya yakni pemberitahuan bus kalau mereka udah hingga di Sand Box.
Do San mau turun namun Dal Mi melarang.
Dal Mi : Ini hari ulang tahunmu. Kau tak ingat? Kita perjanjian merayakannya berdua.
Do San : Itu semua sebelum insiden 2STO, kini berbeda. Semua niscaya menanti kita.
Dal Mi : Semuanya sudah sepakat untuk bolos.

Dal Mi kemudian memerintahkan Do San tersenyum dan mengarahkan kamera ponselnya ke mereka berdua.
Do San melongo memandang Dal Mi.
Dal Mi mengambil foto mereka. Setelah itu mereka tak saling bicara.

Chul San menemui Cheon Ho. Cheon Ho pribadi memamerkan ucapan selamat ke Chul San.
Cheon Ho : Berkat kalian, saya berhasil menukar sahamku dengan uang.
Chul San : Ya. Tapi saya tidak ingin diberi selamat.
Cheon Ho : Kau terlalu merendah. Kalian sudah sanggup tiga miliar. Jangan terlalu merendah.
Chul San : Awalnya saya juga pikir begitu. Namun, setelah dikurangi utang, pajak, dan mengkalkulasikan tiga tahun untuk gaji, sisanya tak banyak.
Cheon Ho : Ya, benar. Kalian selama ini memang bertahan dengan utang. Katakan saja apa pun. Apa permintaanmu?
Chul San menunjuk sesuatu dan bilang mau meminjamnya.

Dal Mi ngajak Do San ke hotel.
Do San tanya, kenapa mereka ke hotel.
Dal Mi bilang, ada kedai makanan Prancis nikmat di dalam dan ia sudah reservasi.
Dal Mi kemudian mengajak Do San masuk.
Do San terang resah sama perilaku Dal Mi.

Dal Mi mengatakan, mereka gak pernah makan di kawasan semewah itu.
Do San merespon sekenanya. Dia cuma bilang bagus.
Lalu Do San melanjutkan soal kasus Rona Tech yang serupa dengan Samsan.
Do San bilang Rona menggunakan media jadi kenapa mereka tak gunakan taktik yang serupa untuk melawan Alex.
Do San : Ingat reporter yang menulis NoonGil dengan baik? Choi… siapa namanya?


Tapi perilaku Dal Mi aneh. Dia terus dan terus mengalihkan obrolan di saat Do San membicarakan soal gugatan.
Dal Mi tanya, sejak kapan Do San tahu kalau Do San terpelajar pemrograman.
Do San bilang waktu ia 13 tahun…
Do San kemudian ingat nama reporter itu. Choi Yang Won.
Tapi Dal Mi mengalihkan obrolan lagi.


Dal Mi : Bagaimana bisa tahu itu?
Do San : Waktu itu, saya bermain gim dari Amerika. Saat teman-teman mencari jalan, saya cari algoritma penelusuran jalannya.
Dal Mi : Bagaimana bisa begitu di saat 13 tahun?
Do San : Bagiku, bahasa pemrograman sungguh nyaman. Maka itu, saya suka buat algoritma.
Do San kemudian bilang dilema akuisisi perusahaan mereka lebih penting.
Tapi Dal Mi tidak ingin membicarakannya.


Dal Mi : Berapa besar kesempatan adanya genius sepertimu? Satu dari 100.000? Dan kesempatan orang andal menyerupai Alex bisa menemukanmu mungkin satu per sepuluh juta. Sulit mendapatkan kesempatan itu. Banyak genius lain yang tak mendapatkan kesempatan itu. Sampai sementara waktu lalu, kamu salah satunya.

Do San emosi dan membolak balik halaman di buku gugatan.
Dal Mi yang menyaksikan itu, pribadi menutup buku gugatan.
Dal Mi : Mungkin akan lebih sulit dibandingkan dengan mengungguli lotre. Sayang kalau dilewatkan.
Do San : Peluang? Di dunia, kesempatan dua orang berjumpa itu sama. Sama rata, dan sama hebat. Dan saya cuma bisa buat program. Kemampuan bahasaku kurang, dan tak paham metafora. Aku tak bisa main piano, melukis, dan berolahraga. Aku tak tahu ini garpu masakan epilog atau salad. Aku bukan genius. Aku orang bodoh. Puas?
Dal Mi : Do San-ah.
Do San : Aku tak tahan lagi di sini. Aku tunggu di luar.
Do San pun beranjak keluar.

Dal Mi menyusul Do San. Dal Mi marah.
Dal Mi : Do San-ah, kamu tak paham maksudku!
Do San : Aku paham. Tapi… Kau akan pergi kalau itu kau? Tinggalkan NoonGil dan tim?
Dal Mi : Ya. Aku niscaya akan pergi. Jika saya andal menyerupai kau, saya niscaya pergi.
Do San : Tapi saya tak mau. Aku suka di sini. Aku bisa apa pun di sini. Baik di Sand Box atau di kawasan dahulu, saya tetap lebih menegaskan di sini.
Do San pergi. Dal Mi teriak, HEI!

Dal Mi menyusul Do San dan minta Do San tak menjadikannya terlihat makin menyedihkan.
Dal Mi : Tolong pergilah! Aku sungguh malu. Sungguh memalukan. Orang andal itu memilihmu, dan membuangku. Dia menginginkanmu, bukan aku. Apa saya mesti katakan ini dengan mulutku? Karena saya tidak ingin terlihat menyedihkan, saya menyampaikan ini di kedai makanan mewah. Tak bisa ikuti saja perkataanku?
Do San : Dal Mi-ya, jebal!
Agar Do San mau pergi, Dal Mi pun melukai hati Do San. Dia bilang Do San bukanlah Do San yang dahulu menulis surat untuknya.
Dal Mi : Aku juga bukan mimpimu.

Dal Mi mengembalikan bola Do San.
Do San : Kau mau kita putus?
Dal Mi : Aku mau kamu tak terus keras kepala alasannya yakni khayalanmu. Kita mesti terima kenyataan ini. Kita sudah dewasa. Sampai kapan terus bermimpi? Benar, ‘kan?


Dal Mi beranjak pergi.
Do San pun tanya, apa Dal Mi mengajaknya pergi cuma buat menyampaikan itu.
Dal Mi bilang iya.

Dal Mi kemudian pergi. Tanpa Do San tahu, di saat Dal Mi bilang iya, air mata Dal Mi sudah berderai.
Do San nangis ditinggal Dal Mi.


Dal Mi duduk di halte, di depan hotel yang ia kunjungi dengan Do San.
Terdengar bunyi gemuruh. Tak lama, hujan deras pun turun. Bersamaan dengan turunnya hujan, tangis Dal Mi pecah.
Do San menyusuri jalanan dengan langkah gontai. Badannya berair kuyub. Do San terus berjalan, hingga ia hingga di kantornya yang dulu.


Do San masuk, namun kemudian ia menyaksikan Yong San hendak bundir.
Sontak Do San pribadi berlari menghentikan Yong San.
Do San : Yong San-ah, kamu tak apa.
Yong San yang juga berair kuyub bilang ia tak apa.
Do San marah, dasar gila! Kenapa kamu mau mati alasannya yakni ini! Jika kamu mati, bagaimana denganku! Kenapa kamu juga begini kepadaku! Kenapa kamu begini!
Yong San bilang, ia takkan mati. Dia takkan bundir. Do San kemudian tanya kenapa. Yong San bilang kopinya jatuh ke bawah, jadi ia menyaksikan ke bawah.
Yong San kemudian tanya, Do San ada dilema apa.

YongDo bicara di dalam. Do San cerita, ia dan Dal Mi udah putus.
Yong San merasa bersalah. Dia minta maaf dan percaya Do San membencinya sekarang.
Do San minta Yong San tak berlebihan. Dia bilang itu bukan salah Yong San.

Do San : Yong San-ah, waktu kamu berhenti dari perusahaan dan bergabung denganku, kamu bilang kamu merasa menyerupai pesuruh di sana. Maka itu, kamu berhenti. Jika terus begini, kita akan menjadi pesuruh lagi. Aku tahu. Apa duit dan pengalaman begitu hebat? Sampai kamu mau menjadi menyerupai dahulu lagi?
Yong San : Apa kamu pikir saya mau ke 2STO demi duit dan pengalaman?
Do San tanya, kemudian alasannya yakni apa.
Ternyata alasannya yakni Ji Pyeong. Yong San gak mau dianggap gagal oleh Ji Pyeong. Yong San kemudian tanya, apa Do San ingat apa yang dibilang Ji Pyeong pada mereka dulu.

Ji Pyeong bilang, perusahaan rintisan yang tak sanggup investasinya tak ada yang berhasil dan ia tidak ingin menghancurkan rekornya itu.
Yong San : Kakakku tergolong dalam rekor itu. Sejak di saat itu, saya menghasilkan keputusan. Aku mesti masuk ke Sand Box kawasan Pak Han, lalu, saya mesti hancurkan rekor andal yang ia katakan itu. Dan kini yakni waktu yang tepat.

Yong San bilang itu alasannya yakni kakaknya, bukan uang.
Yong San : Karena itu Do San-ah, kumohon jangan hingga kita dikenang selaku kegagalan.
Do San terdiam.



Paginya, In Jae yang gres tiba melongo menyaksikan logo Sand Box.
Lalu ia ingat di saat menyaksikan Dal Mi yang terpukul dipecat Alex.
Dia juga ingat di saat Morning Group memecatnya.

Karena itulah In Jae menemui Bu Yoon. Dia bilang ada yang akan ia katakan.


Dal Mi termenung di meja makan, memandang keluar jendela.
Halmeoni keluar kamar sambil menguap dan menyaksikan Dal Mi di meja makan.
Halmeoni : Kau bangun pagi sekali.
Dal Mi : Halmeoni, katamu saya bunga kenikir, kan? Padahal dalam waktu dekat ekspresi dominan gugur. Aku gugur sebelum mekar. Apa saya akan mekar tahun depan?
Halmeoni memeluk Dal Mi.
Dal Mi nangis di pelukan hangat halmeoni nya.

Trio San dan Sa Ha lagi beresin barang mereka di kantor Sand Box.
Tapi si kembar tiba-tiba datang. Hyun bilang mereka bisa pakai ruangan itu.
Chul San : Sedang apa kalian di sini?
Hyun : Kalian belum dengar? Kami akan rekrut pegawai lagi.
Chul San : Dan pakai ruangan ini?
Hyun mengiyakan.
Chul San lantas menghalau mereka. Dia memerintahkan mereka tiba lagi setelah mereka pergi.
Setelah si kembar pergi, Sa Ha pamit.

Chul San tanya, apa boleh ia hubungi Sa Ha di saat ia di Silicon Valley.
Sa Ha bilang tak ada argumentasi untuk itu.
Sa Ha kemudian pergi. Tapi sebelum pergi ia memandang Chul San dan bilang ‘sehat selalu’ ke Chul San.

Chul San menyaksikan ke meja, kemudian tanya apa Do San atau Chul San yang mengambil foto mereka.
Do San bilang enggak.


Yong San tanya ke Do San, kapan Dal Mi akan tiba merapikan barang.
Do San terdiam, kemudian ia memandang ke meja Dal Mi dan nangis lagi.

Dal Mi memandang logo Sand Box dengan wajah sedih.
Lalu Bu Yoon datang. Bu Yoon bilang ia mendengar kalau anak kecil di ayunan itu yakni Dal Mi.
Dal Mi tanya, bagaimana Bu Yoon tahu. Bu Yoon bilang In Jae yang mengatakannya.
Dal Mi kaget, ia bilang begitu?
Bu Yoon : Kau minta ayahmu tebarkan pasir biar bisa naik ayunan?
Dal Mi : In Jae beritahu itu juga?
Bu Yoon bilang ia dengar pribadi dongeng itu dari Pak Seo.
Dal Mi kaget, dari ayahku?
Bu Yoon : Aku sungguh suka dongeng itu. Aku bahkan hingga menghasilkan kawasan ini. Dia mau biarkan putrinya bermain ayunan, namun tidak ingin ia terluka. Hatinya membuatku tersentuh. Namun tak mudah menyodorkan itu.


Bu Yoon kemudian tanya, Dal Mi suka ayam goreng kan?
Dal Mi bilang sungguh suka dan tanya gimana Bu Yoon tahu.
Bu Yoon dongeng kalau hari itu Pak Seo berhasil teken kontrak dan mau belikan ayam goreng untuk putrinya.


Dal Mi pun ingat di saat ia dan ayahnya bicara di telepon.
Dal Mi minta ayam goreng.
Sang ayah pun bilang ayam tak mahal dan minta Dal Mi bilang padanya kalau pengen ayam goreng.
Dal Mi pun berterima kasih Bu Yoon sudah menceritakan hal itu padanya.

Malam pun tiba. Sa Ha yang lagi nyetir, mendapatkan pesan dari Chul San.
Chul San ngirimin Sa Ha video. Di pesannya Chul San bilang, kalau ia ketakutan Sa Ha masih kesusahan tidur jadi ia menghasilkan video.
Ternyata itu video Chul San. Chul San merekam dirinya di studio Cheon Ho.
Chul San : Pi yakni 3,1415, 9265, 3589…
Sa Ha senyum menonton video Chul San.

Dal Mi di kamarnya, berupaya berdiri lagi. Dia mulai mencari lowongan kerja dan mendapatkan lowongan kerja dari In Jae Company.
Dal Mi pun teringat kata-kata Ji Pyeong.
Dal Mi : Jika tak bisa mengalahkan musuhmu, jadilah pasukannya. Itu yang mesti kamu lakukan.
Dia terpesona untuk melamar! Dia melakukan apa yang diusulkan Ji Pyeong.

Besoknya, Do San ke 2STO menemui Alex. Do San minta maaf alasannya yakni sudah buat keributan.
Alex memastikan. Dia tanya, mereka sudah setim sekarang?
Do San bilang iya.
Do San kemudian meminta sesuatu pada Alex.
Alex bilang bukan Do San saja yang punya permintaan.


Alex mengajak Do San masuk ke ruangannya.
Dan, Do San pun melongo menyaksikan Ji Pyeong sudah berada di dalam.
Alex memerintahkan mereka duduk, namun Do San mematung di bersahabat pintu memandang Ji Pyeong.


Alex menebak Ji Pyeong dan Do San tiba untuk hal yang sama.
Alex : NoonGil, kan?
Ji Pyeong mengiyakan.


In Jae Company sedang mewawancarai para pelamar.
Trio San menaiki pesawat.

Sa Ha tidur sambil menyimak video Chul San.
Kamera menyorot foto Samsan Tech di meja Sa Ha. Ternyata Sa Ha lah yang mengambil foto itu.

Ji Pyeong berlangsung di koridor dan langkahnya berhenti di depan kantor Samsan.
Ji Pyeong menyaksikan ke dalam.

Tak usang kemudian, ia beranjak pergi.
Tapi pas ia udah di lantai bawah, ia menyaksikan Dal Mi melintas di lantai atas.

Pramugari berhenti disamping Trio San dan tanya, mereka mau minum apa.
Chul San minta latte vanila dingin. Pramugari bilang gak ada. Lalu Chul San minta jus.
Chul San terlihat sedih. Yong San yang tahu itu alasannya yakni Sa Ha, berupaya menguatkan Chul San.

Tim In Jae sudah selesai menginterview pelamar.
In Jae bilang pengembang sudah dapat, namun manajer penyusunan rencana strategis belum.
Dae Myung mengajak In Jae memaksimalkan iklan lagi.


Tapi kemudian Dal Mi datang. Dal Mi bilang ia tiba untuk melamar kerja.
Sontak semua terkejut.
In Jae duduk lagi. Yang lain gak setuju.
In Jae tanya, argumentasi Dal Mi mau bergabung dengannya.


Hari sudah malam. Trio San masih di pesawat.
Chul San dan Yong San udah tidur, namun Do San masih sibuk dengan laptopnya.
Ternyata Do San sedang memperbaharui NoonGil. Dia mewujudkan inspirasi Dal Mi dengan menyertakan daftar nama-nama obat ke NoonGil.
Bersambung…

Putus dari Dal Mi, Do San berdiri di depan hotel. Dia memandang ke langit yang mengucurkan hujan deras dengan sorot mata pedih.
“Do San-ah. kamu pernah jalan tanpa tujuan? Hari ini, saya berlangsung tanpa tujuan.”

Do San kemudian hujan-hujanan.
“Kau pernah sengaja kehujanan padahal punya payung? Hari ini, saya menyerupai itu. Aku sungguh gerah dan kepanasan, namun hujan menyejukkanku.”

Hujan alhasil berhenti dan Do San berhenti berjalan.
“Setelah berlangsung sekitar 30 menit, hujan berhenti, dan ada suatu panorama yang sungguh indah di hadapanku. Ada suatu pelangi sungguh besar yang nampaknya akan mengabulkan apa pun permintaanku. Tiba-tiba saya terpikir. Terkadang berlangsung tanpa tujuan menyenangkan. Lalu terkadang, berlayar tanpa peta yakni hal yang mengagumkan.”
Tangis Do San alhasil pecah.